Foto: M. Ifan Adhitya ( @ifandfun)| Ilustrasi: Herman Pawellangi ( @chimankorus)

Beranggotakan Aprilla Apsari (vokal), Ricky Surya Virgana (bass), Rio Farabi (gitar), Saleh Husein (gitar), Aprimela Prawidiyanti (piano/vokal) dan John Navid (drum) yang selalu kompak untuk tampil dengan pakaian bernuansa retro, makin menegaskan White Shoes and The Couples Company punya keistimewaan dibandingkan grup musik Indonesia masa kini lainnya. Mereka berani dengan modal nekat membawakan kembali semangat musik pop Indonesia yang berjaya di tangga lagu tahun 60-an hingga 70-an, tentunya dengan lagu-lagu yang mereka ciptakan sendiri dan sesekali membawakan ulang lagu Indonesia legendaris seperti “Selangkah Ke Seberang” karya Fariz RM maupun “Sabda Alam” yang dinyanyikan oleh Chrisye.

Keberanian mencuatkan kembali semangat musik pop Indonesia 70-an tersebut membuahkan hasil untuk White Shoes and The Couples Company yang bisa laris manis diundang tampil di berbagai festival musik nasional maupun internasional mulai dari benua Amerika hingga Afrika. Namun kesuksesan itu tetap membuat White Shoes and The Couples Company tetap rendah hati kepada siapa saja.

Termasuk wawancara saya dengan White Shoes and The Couples Company dengan seluruh personilnya sebelum tampil di panggung Soundsations Indiealism Music Fest di Pantai Akkarena,Makassar pada 23 Mei lalu. Layaknya seorang kerabat, saya bisa berbincang-bincang dengan mereka sore itu yang berkisar tentang penampilan di Makassar, kritikan dari kritikus musik dan resep konsistensi dalam berbagai hal. 

Kedatangan kalian kali ini yang keempat kalinya di Makassar. Apa saja perubahan-perubahan yang kalian simak setiap tampil di Makassar?

Saleh: Kalau perubahannya sih, banyak anak muda yang bikin acara. Kalau udah banyak yang bikin acaranya, berarti banyak juga pengisi acaranya maupun audiensnya. Perubahannya sih harus ke arah yang okay.

Sari: Kalau saya pribadi, memang datang ke Makassar, karena White Shoes, jadi belum pernah yang jalan-jalan sendiri. Jadi baru ngeliat gigs yang bisa dibilang mainstream. Sebenernya pengen sih sekali-sekali jalan nonton pertunjukkan musik kolektif yang ada di sini. Kalau perubahannya sih sejauh ini cukup meriah, soalnya tiap main ke sini (penontonnya) selalu penuh, gitu. Karena wawancara ini dilakukan sebelum kita di atas panggung, jadi kita belum bisa menilai respon penonton bagaimana nanti saatnya kita nampil. Nanti kita liat aja ya.

i 1

“Kalau saya pribadi, memang datang ke Makassar, karena White Shoes, jadi belum pernah yang jalan-jalan sendiri. Jadi baru ngeliat gigs yang bisa dibilang mainstream. Sebenernya pengen sih sekali-sekali jalan nonton pertunjukkan musik kolektif yang ada di sini.” -Sari

Sejauh ini White Shoes and The Couples Company pernah menyimak band-band dari Makassar?

Ricky: Kalau band sih belum, tapi gue lebih sering denger ada event-event bagus akhir-akhir ini. Yang lebih sering tau (soal event) dari Ardy (Chambers), karena gue ngikutin Instagramnya, kayak Rock In Celebes dan sebagainya. Kalau band belum sih, karena masih ketutup sama Jogja, Bali sama Malang. Mungkin guenya aja yang gak aware, jarang denger sih.

Terakhir kali kalian merilis EP Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah. Apa ada rencana kalian mau merilis album baru lagi? Mungkin ada persiapan khusus?

Saleh: Kalau soal buat lagu baru, sebenarnya lagi…

Rio: Kita gak pernah ada persiapan soalnya.

Saleh: Iya, gak ada persiapan khusus sebenarnya. Mungkin karena mau album baru, persiapannya kayak gimana, kita gak ada. Palingan sih, meluangkan waktu.

Ricky: Gini sih sebenarnya gak ada tabungan. Kalau band lain mungkin ada ya. Tapi misalnya mau album baru, ya rekaman saat itu juga, jadi gak ada stok lagu yang lama. Jadi, kalau misalnya dengar yang seperti di album EP Menyanyikan Lagu-Lagu Daerah, ya seperti itu. Jadinya ya terciptanya (lagu) terjadi saat rekaman. Rencananya sih bulan puasa nanti rekaman untuk album baru.

Saleh: Soal rilisnya (album baru) kita belum tau sih.

White Shoes and The Couples Company sering tur ke luar negeri, terakhir kemarin ke kota Milan, Itali. Bagaimana sih caranya kalian bisa berkesempatan bisa pergi ke sana?

John: Semuanya itu berawal dari social media ya. Kita banyak dapat informasi dari situs-situs luar seperti Rolling Stone, Yahoo dan All Music Guide. Kebetulan lagi kita dirilis sama Minty Fresh( indie label dari AS). Album pertama kita dirilis sama mereka, dan main di SXSW melalu Minty Fresh. Sebelumnya, dari festival musik ke festival musik lainnya, banyak promotor musik yang melihat dan dapat review bagus dari media-media dan akhirnya kita bermain di festival berikutnya. Lagu-lagu yang kita bawakan juga lagu-lagu Indonesia dan itu yang diharapkan mereka. Karena mereka tertarik dengan hal seperti itu.

Nah, lagu-lagu yang kalian bawakan bernuansa dan didominasi lirik berbahasa Indonesia. Apakah pernah merasa kejenuhan juga membawakannya dan apa ada formula khusus dalam membuat lagu-lagu kalian?

Saleh: Kalau kejenuhan sudah pasti ada. Tapi yang pasti, karena kita senang dan enjoy (membawakannya), apalagi lagu kita sendiri, bisa eksplor ke mana saja. Tapi kalau sampe bosen banget, gak ada sih yang sampe bosen begitu. Kalau formula khusus buat lagu, gak ada sih, kita banyakin referensi. Ya dengerin band baru, band lama, band temen-temen juga, yang keren-keren. Jadi inspirasi buat kita juga sih. Apalagi kita juga semuanya kerja, (ide lagu) mungkin pun bisa menginspirasi buat kita.

Referensinya itu apa saja sih, boleh sebutkan satu-satu?

Saleh: Yang masih sering didengerin Sondre Lerche.

Rio: Baba Brooks (pemain trumpet jazz, red.), Kebanyakan reggae-reggae 60-an, 70-an sih.

Sari: Kalau saya yang pasti masih ada sampe sekarang, di computer atau di iPod itu Ella Fitzgerald, Louis Amstrong. Terus kalo sekarang lagi suka dengerin hip hop 90-an yang sering saya dengerin waktu SD, SMP buat ngisi kegiatan pas kerja.

Ricky: Kalau gue dari dulu sampe sekarang senang dengerin rilisan Lokananta sama Irama Records, yang qasidahan Al-Quran. Karena (personil) yang lain biasa aja, itu yang gak biasa.

Mela: Biasanya lagu-lagu yang di gadget itu yang easy listening,jadi gak ada lagu yang ajeb ajeb gitu kayak lagunya Margo Guryan atau Tame Impala, yang sekarang-sekarang, mungkin.

John: Kalau saya lebih suka instrumental, musik-musik scoring film, terus abis itu jazz, kayak Art Blakey,Benny Goodman, Dave Brubeck.

"Kalau gue dari dulu sampe sekarang senang dengerin rilisan Lokananta sama Irama Records, yang qasidahan Al-Quran," ujar Ricky saat ditanya referensi musik yang sedang didengarkan sampai sekarang.

“Kalau gue dari dulu sampe sekarang senang dengerin rilisan Lokananta sama Irama Records, yang qasidahan Al-Quran,” ujar Ricky saat ditanya referensi musik yang sedang didengarkan sampai sekarang.

Kalian sering mendapat tanggapan positif. Apakah pernah mendapatkan kritikan pedis dari kritikus musik?

Saleh: Ada aja, gak papa sih. Bagus malah.

Rio: Soalnya kalau pujian melulu, jadinya riya.’

Saleh: Nah, mantap…

Sari: Kita malah sering gak tau ini pujian atau bukan. Maksudnya apa nih? memujinya kayak terlalu berlebihan maksudnya apa, ada yang suka kayak gitu juga. Kita senang malah kalo ada orang ngeritik, Pokoknya tanggapan positif atau negatif itu masukan dan itu jujur. Jadi, orang Indonesia itu harus ada peningkatan. Gak boleh kayak Orba banget.

Ricky: Apalagi kalo misalnya lo nemuin kritikannya dia itu salah. Wah itu lebih senang lagi. Haha.

Sari: Jadi hiburan lah. Berarti tingkat kritisnya beda.

Ricky: Kayak ini yang nulis kemarin tentang Record Store Day di Jakarta baru baru ini, tapi tulisannya salah. Jadinya lucu kan? Banyak orang yang sok tau, jadinya pelajaran buat kita juga. Mestinya gak boleh kayak gitu tuh. Maksudnya mau OK, tapi tujuannya salah. Jadinya senjata makan tuan. Tapi tetap kita terima aja, terima kasih.

Sari: Justru kritikan yang malah membuat kita cuek aja dan terus maju.

Well enough. Hehe. Selain musisi-musisi di Pulau Jawa, bagaimana  sih kalian melihat semangat teman-teman musisi di luar Pulau Jawa? Ada yang punya semangat serupa dengan White Shoes?

Sari: Kalau soal spirit, sejauh ini sih…kalau kita memantau secara on-line kayaknya dimana-mana itu semangatnya sudah hampir sama, culture undergroundnya naik bareng-bareng. Saling support apalagi ada media on-line kayak Deathrockstar, Digilive, dan sebagainya. Mestinya yang kayak begitu mesti disupport dan kita share link mereka juga, biar orang tau juga. Kalau mau tau acara bagus, review bagus, paling ke alamat link itu. Jadi biar kita juga memperkaya khazanah yang pemerhati musik.

Ricky: Yang emang keliatan (semangatnya) gitu, biasanya selain Jakarta, Bandung, Jogja, Bali, Malang. Terus waktu pertama kali main di Medan dan delapan tahun setelahnya, band-band di sana keren banget. Terus culture untuk kesadaran membeli rilisan fisik, banyak yang punya vinyl. Kayaknya sekarang sudah merata. Sama kayak yang di sini kan ya, yang jual di Makassar kan ya? Gue pernah baca tuh, anaknya masih muda? Musick Bus kalo gak salah namanya. Nah, yang kayak gitu refreshing banget. Wah keren…

Rio: Tinggal masalah konsisten. Biasanya itu yang susah tuh… Semangat ada, pergerakan ada, tapi karena udah kelamaan, jadi kendor lalu ilang. Itu yang sangat disayangkan. Biarpun hal kecil, tapi elo konsisten, Ok sih… Pasti banyak orang yang melirik.

Kalau gig-gig fenomenal yang bakal disambangi kayak yang di Milan kemarin itu boleh dibocorkan jadwalnya? Hehehe

Mela: Ada lagi sih nanti di bulan Agustus sementara ini yang udah fix,di Modern Sky Festival di Helsinki, Finlandia. Publikasinya sudah official.

John: Bulan September nih kalo jadi, bakal fenomenal. Tapi belum pasti. Jangan dulu ya diinfokan.

Tentang gelaran Indiealism, kenapa White Shoes tertarik untuk ikut tampil? Apakah memang memiliki idealism yang sama dengan gelaran ini?

Saleh: Kalau kita sih sebenernya main dimana aja sih, mau dari acara besar, acara yang medium,sampai acara yang kecil banget, yang sempit sampe kita juga susah mainnya, kita main. Jadi selama spiritnya sama, untuk anak-anak muda dan ngebangun scene yang ada di tiap kota, kenapa gak. Kita main aja pokoknya. Dan band-band lainnya juga mainnya keren-keren. Kalo emang dari scene yang bikin, kita dateng dan main. Kalau ngomong soal sponsor, kita gak peduli. Mau sponsornya apapun maksud gua, tiba-tiba besok brand sepatu atau makanan sosis, kita gak ada masalah.

i 3

Layaknya seorang kerabat, saya bisa berbincang-bincang santai dengan seluruh personil White Shoes and The Couples Company sore itu di tenda belakang panggung.

Harapan White Shoes untuk teman-teman musisi di Makassar?

Saleh: Ya itu aja tadi, konsistensi.

Rio: Konsisten plus ada nekat-nekatnya dikit lah.

Sari: Banyakin bikin video. Karena kita yang di Jakarta juga mau nonton gitu. Rajin-rajinlah upload video di Youtube. Video performance atau videoklip indie, gitu. Bikinnya mandiri, gak usah tergantung sama yang sudah ada lebih dulu.

Ricky: Bikin karya yang bagus aja. Maksudnya, bikin aja dulu apa yang lo pengen. Terserah orang mau suka apa enggak. Yang kedua, perbanyak networking. Jadi hubungannya ke daerah-daerah atau provinsi lain, enak jadinya. Jadi kalo ke Bali, bakal ada temen yang bakal bantuin. Itu penting banget.

Mela: Being different. Konsisten dan percaya diri.

John: Harapannya selain musisi Makassar bisa konsisten, lebih banyak makanan-makanan enak di Makassar, kayak Pallubasa, terus pisang ijo, Mie Titi, Nasi Goreng Merah, Konro, yang bisa menarik orang-orang untuk datang ke Makassar.

White Shoes and The Couples Company (ki-ka): Rio Farabi (gitar), John Navid (drum), Aprimela Prawidiyanti (piano/vokal), Aprilla Apsari (vokal), Saleh Husein (gitar), dan Ricky Surya Virgana (bass).


 Baca artikel lainnya dari Achmad Nirwan

“Musik Kontemporer itu Seperti Virus”

Membisingkan Ide dan Musik dalam Garasi

Berjuang Membangun Halusinasi Secara Nyata

Momen Istimewa untuk Rilisan Musisi Makassar

Rilisan Album Musisi Makassar untuk Record Store Day 2015

Membuka Jejak Semesta dan Rupa Pesona

Bersiasat dengan Bisnis Musik di Era Digital

Pesta dan Ska Sehari Penuh Sukacita!

Mengarungi Semesta Musik Alif Naaba

Hanya Ada Satu Kata untuk Korupsi: Lawan!

Vakansi Akhir Pekan untuk Pelestarian Hutan

Menyatukan Musik Pop dengan Bebunyian Loop

Melewati Masa Orientasi Mahasiswa Baru

Gaung Nuansa Skiffle dari Timur

“Siapkan Mental dalam Bermusik!”

Penghormatan Penuh Loyalitas untuk Oasis

Memotret Indonesia dalam Lukisan

5 “Rukun” Wajib untuk Musisi

Nada Gerilya untuk Pandang Raya

10 Pahlawan Musik Rock Alternatif

Bikin Film tentang Anti-Korupsi, Kenapa Tidak?

Playlist Ngabuburit Anti-Klise