Ilustrasi:Herman Pawellangi ( @chimankorus )

Si Wilan yang sedang duduk di pojokan sebuah kafe tampak gelisah. Matanya tak lepas dari layar smartphone keluaran terbaru. Sambil sesekali menyeruput kopi, ia-pun kembali melirik telepon genggam pintar miliknya. Senyumnya merekah ketika mendengar bunyi nada pesan singkat. Dilihatnya sebuah pesan singkat dari Albert, sahabatnya.

“Bro, tunggu ka nah, saya otw mi”

Wilan kembali membalas pesan itu, “Sippo”

10 menit sejak pesan singkat terkirim, Albert akhirnya muncul dengan tergesa-gesa.

Albert : “Maaf bro, kena macet di Pettarani, jangan ngambek belah, nda jaman mi. Percuma ji ki bromance kalo begitu ko.”

Wilan: “Apa kah definisi bromance-mu bro?”

A: “Yah, tergantung sih. Kalo yang saya baca sih bromance itu hubungan dua pria yang sangat erat tetapi tidak ada ketertarikan seksual. Benar, gak?”

W: “Iya, sih. Menurut kamus urban dictionary.

Albert lalu memanggil seorang wanita berparas cantik yang bekerja di kafe itu. “Sayang, pesan ka’ working class coffee satu nah,” Lalu ia kembali bertanya ke Wilan, “Menurut kau iya, apa itu bromance?”

W: “Kalau saya sih, bromance itu, seperti kita ini. Betul juga kata kamus, tidak melibatkan ketertarikan seksual. Lebih kepada saya sayang ko sebagai seseorang, tapi bukan teman, bukan juga sahabat, lebih cocok kalau saya bilang klik. Saya dengan kau kalau ngomong klik ki’ berdua. Nyambung, sama bahan bicara ta. Tapi terutama iya, saya bisa mengerti kekuranganmu, kau juga bisa mengerti kekuranganku.”

A: “Misal?”

W: “Bert, kau itu laki-laki paling egois saya kenal, kalo ada yang ko mau harus jadi. Apapun itu. Terus kau juga tidak mau dengar apa pendapat orang lain. Tapi saya tetap mau berteman sama kau. Sampai-sampai kita bahas semua, kan? Mulai dari mantanmu dan pacar barunya yang akhirnya pacarnya datang cari ko untuk diskusi tentang mantanmu, sampai bagaimana program walikota yang tidak jalan, semua kita bahas sama-sama kan?”

A: “Oke, setuju, apalagi?”

W: “Kau juga tidak sungkan saat tidak punya uang, pasti minta sama saya, tapi kalo kau lagi banyak uang ko traktir ka juga makan. Belum lagi obsesi ta berdua untuk menjadi desainer ternama seperti Dolce and Gabbana. Saling sharing masalah model baju cowo atau cewek tahun ini.”

A: “Ya ya ya, jangko isi-isi ka deh, rapuh ka, Hahahaha.”

W: “Blamma, tidak ji blams. Kasarnya sih, saya lebih memilih kehilangan pacarku daripada harus kehilangan kau. Saya cakep, tinggal kasih kode cewek pasti luluh. Tapi kalo cari pengganti kayak kau, susah sekali.”

A: “Iya bro, sama ji yang saya rasa. Saya selalu dapat support dari kau. Saya susah atau senang pasti saya mengadu ke kau. Apalagi masalah bisnis. Karena kebetulan sama hobi ta berdua.”

W: “ Mdedeh, baper mi sede.

A: “ Awwah, tidak ji.”

Kopi pesanan Albert pun datang, diaduk lalu diminum sedikit dari gelasnya.

A: “Adalagi, menurutku pertemanan itu ada beberapa tingkat. Yang paling rendah teman biasa lalu di atasnyaa itu teman dekat, di atasnya lagi sahabat, terakhir ini bromance. Masing-masing tingkat pembagian sayangnya pasti berbeda. Tapi tetap saja akan banyak faktor yang menjadi penentu seseorang itu berada di level mana. Karena penilaian tiap-tiap orang kan berbeda. Kalau sudah sampai di level terakhir, di-calla apapun itu pasti tidak sampai sakit hati ji. Kalaupun sakit, paling bicara baik-baik, habis itu besok-besok baku calla mi lagi. Kurang lebih begitu, ji

W: “Hahaha, iya sih, yang jelas berada di sampingmu, mengajarkanku apa artinya kenyamanan. Happy Valentine, brocuuu.”

A: “Broccuuu, jiiii. Happy Valentine’s Day.”

Bromance, tidak ke-gay-gay-an seperti yang para pembaca pikir. Bromance mengajarkan bagaimana dua orang dengan jenis kelamin yang sama bisa nyaman satu dengan lainnya, tanpa ada kontak fisik, maupun perasaan cinta yang tumbuh.


Tulisan Lainnya dari Langgo Farid

Si Danny dan Akun Path-nya

Surat Untuk Warga Makassar

Mengungkap Kejahatan dengan Tulisan

Sindrom Haus Perhatian di Media Sosial

Pesan Untuk Film Bombe’