Oleh: Terbit Ryansyah ( @TRYAANS )| Sumber Gambar: Samuel Goldwyn Films

“I find any communication of a non-mathematical nature very difficult. Because I don’t talk much, people think I don’t have anything to say, or that I’m stupid. And that’s not true. I have lots of things to say. I’m just afraid to say them. I know that I’m strange in lots of ways. I think I see the world in a different way to other people… I’ve always been like that…”. -Nathan

Nathan Ellis (Asa Butterfield) seorang anak yang lahir dengan “hadiah” kecerdasan yang berbeda dari anak-anak seusianya. Khususnya, dalam bidang matematika. Namun, kepintarannya tidak dibarengi dengan kehidupan sosialnya, Nathan menjadi seorang yang sulit berkomunikasi dengan orang lain karena karakter pendiam dan sensitif. Menjadi semakin sulit untuk Nathan saat harus menghadapi kematian ayahnya. Nathan harus menyaksikan ayahnya meninggal tepat disampingnya. Hal yang membuatnya merasa bersalah atas kejadian tersebut dan memberikan trauma yang mendalam. Apalagi bagi Nathan, hanya Ayahnya yang mampu menjadi teman yang bisa mengerti dan membuatnya tertawa.

Nathan (Asa Butterfly) & Ibunya Julie (Sally Hawkins).

Nathan (Asa Butterfield) & Ibunya Julie (Sally Hawkins).

Selepas kepergian Ayahnya, Nathan tinggal bersama ibunya, Julie (Sally Hawkins). Namun Nathan tidak begitu akrab dengan ibunya dikarenakan sang ibu menurutnya tidak cukup pintar untuk bisa mengerti dan melakukan apa yang ayahnya lakukan. Namun ibunya sangat mencintai Nathan dan berusaha sebaik mungkin mengerti dan mengikuti semua keinginan Nathan. Meskipun harus berjuang sebagai orang tua tunggal.

Masuk di Sekolah tingkat kedua, Kepala sekolah yang mengetahui kemampuan Nathan memproyeksikannya untuk mengikuti Olimpiade Matematika Internasional dan memperkenalkannya pada guru Matematika Martin Humphreys (Rafa Spall) yang akan menjadi mentornya. Nathan menjadi terobsesi untuk bisa mengikuti Olimpiade Matematika Internasional untuk menunjukkan kemampuannya dan membuat hal itu menjadi tujuan utamanya lebih dari apapun.

Hingga beranjak remaja Nathan terus memperdalam kemampuan matematikanya didampingi oleh Humphreys. Nathan dan Humphreys memiliki hubungan yang cukup dekat sebagai murid dan guru. Humphreys juga pada akhirnya memiliki kedekatan khusus dengan ibu Nathan, namun sayangnya Humphreys memiliki penyakit dan masalah serius dalam ketergantungannya pada obat-obatan yang membuat kehidupannya tidak begitu baik.

Martin Humphreys (Rafa Spall) & Nathan (Asa Butterfly).

Martin Humphreys (Rafa Spall), sang mentor dalam memperdalam kemampuan ilmu matematika Nathan.

Suatu hari Nathan berada pada tahap yang dia tunggu-tunggu, yakni saat dia akhirnya terpilih dalam anggota yang mewakili Inggris untuk mengikuti pelatihan Matematika di negeri China dan bersaing untuk terpilih menjadi anggota utama yang akan mengikuti Olimpiade Matematika di Cambridge, Inggris. Di camp pelatihan, Nathan berkenalan dengan teman-teman yang mewakili Inggris, salah satunya Rebecca (Alexa Davies) gadis cantik yang menaruh perhatian khusus pada Nathan. Tak lupa peran Luke Shelton (Jake Davies) yang menurut saya cukup menarik dalam film ini, meskipun terkesan antagonis namun mampu menunjukkan sebuah karakter nyata yang memang ada disekitar kita. Seseorang yang “terlalu jujur” dan “terlalu polos” hingga membuatnya mengatakan semua hal yang ingin dia katakan meskipun membuat dia menjadi lelucon dan dijauhi oleh teman-temannya.

Rombongan dari Inggris melakukan pelatihan bersama kompetitor terberat mereka siswa-siswi dari China yang menjadi langganan juara Olimpiade Matematika Internasional dan didampingi mentor yang bersama mereka Richard (Eddie Marsan) dan Deng Laoshi (Orion Lee), mentor dari tuan rumah China. Untuk memaksimalkan proses belajar, Richard dan Deng Laoshi memutuskan untuk membuat siswa-siswi Inggris dan China belajar berpasangan dan hal ini membuat Nathan berpasangan dengan siswi China Zhang Mei (Jo Yang) keponakan Deng Laoshi, Zhang Mei merupakan yang terpintar dan menjadi harapan keluarganya bahkan harapan untuk China dalam Olimpiade Matematika Internasional. Zhang Mei mampu membuat Nathan tertawa dan menjadi lebih dari seorang teman belajar. Zhang Mei membuat Nathan mengobrol lebih lepas dari sebelumnya. Bahkan dengan Bahasa mandarin yang dia pelajari dari buku. Hal ini membuat Nathan yang awalnya terlihat dekat dengan Rebecca menjadi lebih dekat dengan Zhang Mei.

Nathan di Camp Pelatihan OMI

Nathan di Camp Pelatihan OMI

Meskipun awalnya kesulitan dan kurang percaya diri karena menganggap teman-teman lainnya lebih pintar daripada dirinya, Nathan berhasil terpilih menjadi anggota utama untuk mewakili Inggris Raya dalam olimpiade matematika yang membuat mimpinya akhirnya menjadi kenyataan. Namun Nathan berada pada keadaan yang berbeda karena kedekatannya yang semakin jauh dengan Zhang Mei yang membuatnya merasakan perasaan yang berbeda bahkan membuatnya tidak begitu fokus lagi dengan tujuannya untuk Olimpiade Matematika Internasional yang sudah di depan mata. Apakah perasaan “aneh” yang hadir dalam kehidupan Nathan itu mampu mengubah hidupnya?

Nathan (Asa Butterfly) & Zhang Mei (Jo Yang).

Nathan (Asa Butterfield) & Zhang Mei (Jo Yang).

X + Y  merupakan film karya produser, sutradara, dan cinematographer Morgan Matthews. Terinspirasi dari kehidupan nyata anak-anak yang diberi “hadiah” yang luar biasa dengan kepintaran yang terkadang justru memiliki masalah yang sangat kompleks. Morgan Matthews yang lebih banyak dikenal lewat karya film dokumenter ini memang berhasil menunjukkan hal yang “nyata” lewat alur cerita dan skenario film ini.

Aktor dan aktris yang mendukung film ini jelas juga menjadi hal utama, Asa Butterfield yang telah beranjak remaja dan juga saat ini memang telah menarik perhatian lewat beberapa film yang sukses dia perankan seperti The Boy with Striped Pajamas dan Hugo. Penampilan Asa Butterfield menurut saya sangat cerdas untuk mendalami karakter Nathan dan aktor-aktris pendukung lainnya juga tak kalah hebat dalam mendalami karakter mereka masing-masing untuk membuat film ini benar-benar memberi kesan yang indah.

Mungkin film ini akan memiliki ending yang mudah ditebak, namun sepertinya itu hanya sentuhan drama yang ingin dijual oleh sang sutradara untuk membuat film ini bisa menarik semua kalangan. Film ini berhasil menampilkan alur yang rapi yang sepertinya dibuat hati-hati untuk membuat kita tetap memperhatikan setiap detil dari adegan film yang ditampilkan dengan sinematografi yang indah. Dan yang tidak kalah penting, film ini diiringi soundtrack yang mengalir dengan lembut.

Secara keseluruhan saya merekomendasikan menonton film ini, setidaknya sekali dalam hidup. Namun sayangnya film ini sepertinya akan sulit ditemukan di bioskop, untuk itu perlu sedikit alternatif lain untuk bisa menonton film ini. Rating saya  untuk X + Y adalah 8 dari skala 1-10.