Ilustrasi : Chandra Juliatma ( @chandraanda )

Saya memulai awal pekan pada hari Senin kemarin dengan peristiwa di luar kebiasaan semestinya. Peristiwa pertama datang dari kabar bapak saya di Senin pagi. Beliau mengabarkan tentang pintu rumah almarhumah nenek dijebol maling pada malam sebelumnya.Saya pun menyusulnya untuk membantu beliau di sana. Setelah pekerjaan merapikan kembali rumah almarhumah nenek beres sekitar pukul lima sore, saya membuka akun-akun media sosial pribadi untuk melihat informasi terbaru tentang apa saja yang terjadi hari ini.

Tanpa sengaja, peristiwa kedua di hari Senin itu bermula saat mata saya tertuju pada berita akun sebuah majalah tentang wafatnya David Bowie. Masih setengah tak percaya, saya akhirnya berani membuka pranala berita tersebut. Dikabarkan bahwa penyanyi asal Inggris ini  telah berpulang ke sisi-Nya setelah merayakan hari kelahirannya ke-69, dua hari yang lalu. David Bowie meninggal di New York pada 10 Januari 2016 setelah berjuang melawan kanker hati selama 18 bulan.

Hari Senin pun semakin memilukan pada sejam berikutnya. Saya mendengar komedian Budi Anduk juga berpulang ke sisi-Nya melalui radio. Ucapan duka cita kemudian banyak bertebaran di media sosial. Budi Anduk dan David Bowie menjadi topik perbincangan hangat awal pekan ini di kalangan netizen Indonesia. Walau saya juga menaruh apresiasi terhadap Budi Anduk, David Bowie sepertinya lebih mudah diungkapkan dalam tulisan ini. Alasannya sederhana, karena David Bowie merupakan salah satu musisi favorit saya.

Kehidupan David Bowie di dunia fana ini akhirnya lengkap sudah. Rekam jejaknya di semua aliran musik hingga persembahan karya terakhirnya tepat di hari ulang tahunnya tahun ini, yaitu album penuh terbarunya yang ke-28 bernama Blackstar. Dari album tersebut, ada satu lagu yang juga menjadi single perdana berjudul Lazarus, yang ternyata menguak hal lain. Lazarus seakan menjadi tanda perpisahan David Bowie untuk para penggemarnya. Simak saja liriknya, Look up here, I’m in heaven / I’ve got scars that can’t be seen atau Oh, I’ll be free / Ain’t that just like me?, seru penyanyi bernama asli David Robert Jones ini. Adegan Bowie dalam videoklipnya berikut ini juga menyiratkan hal yang sama.

Penampilan Bowie dengan beragam moniker di tiap eranya yang diperkuat dengan penampilan androgyny di setiap alter ego-nya, membawa Bowie menjelma menjadi ikon musik paling glamor dan kreatif dalam sejarah. Banyak musisi generasi 80-an seperti Duran Duran,Talking Heads, Depeche Mode, Blondie, Michael Jackson maupun band-band hair metal hingga era musik internasional sekarang seperti Arcade Fire bahkan Lady Gaga terlihat mengambil pengaruh gaya Bowie dalam berpakaian. True originator makes true impersonator.

Saya tentu saja tidak pernah bertemu langsung dengan Bowie. Namun, sosoknya seperti hadir bersama pengalaman-pengalaman saya saat mendengarkan beberapa karya musikalnya. Impresi pertama dengan lagu-lagu Bowie bermula di tahun 2005, ketika saya keranjingan bermain Guitar Hero 1 yang memuat lagu Ziggy Stardust miliknya. Lagu yang didominasi akord gitar blues rock a la Led Zeppelin ini berharmonisasi indah dengan vokal Bowie. Kebetulan saja, waktu itu saya sedang rajin mendengarkan lagu-lagu classic rock sebanyak mungkin. Berawal dari situ, saya mulai mencari lagu-lagu milik David Bowie lainnya. Salah satunya melalui kaset pita Best of  Bowie yang sepertinya tidak cukup merangkum semua karya terbaik dan teraneh dari musisi eksentrik ini.

Kaset pita Best of Bowie yang banyak memberi petuah tentang perjalanan musik seorang David Bowie kepada saya.

Kaset pita Best of Bowie yang banyak memberi petuah tentang perjalanan musik seorang David Bowie kepada saya. ( Dok. Pribadi )

Pengalaman unik bersama karya-karya David Bowie lainnya juga saya temukan di sebuah warnet sekitar tahun 2007. Suara David Bowie yang khas, terdengar melantunkan larik You’ll lose your mind and play / see Emily play dari speaker komputer admin warnet tersebut, sekitar tiga hingga empat kali selama saya online  satu jam di warnet itu. Berawal dari menanyakan judul lagunya saat selesai membayar uang online, saya malah diberi tatapan sinis adminnya. Sambil menahan tawa, saya masih sempat berimajinasi liar dalam pikiran kalau saja admin warnet ini merupakan penggemar berat David Bowie yang enggan membagi khazanah musiknya kepada orang lain.  Belakangan setelah kejadian itu, saya baru tahu lagu See Emily Play yang dinyanyikan David Bowie ini merupakan lagu milik Pink Floyd dari album The Piper at The Gates of Dawn.

Kemudian gara-gara Kristen Wiig bernyanyi melagukan Space Oddity yang disambung dengan versi orisinilnya dalam adegan film The Secret Life of Walter Mitty, membuat saya mendadak ikut kembali mendengarkan lagu tersebut. Space Oddity yang bernuansa gitar akustik yang dibumbui dengan nada psikedelik dan aksentuasi suara-suara luar angkasa yang kental itu, betul-betul lagu yang ‘berkuah’ dan menggugah. Yang terbaru, saya masih takjub dengan lagu-lagu David Bowie bisa dibawakan dengan fasih oleh Seu Jorge dalam bahasa Portugis untuk keperluan mengisi soundtrack film Wes Anderson, The Life Aquatic with Steve Zissou.

Dari pengalaman-pengalaman mendengarkan musik dari David Bowie tersebut, saya lama-kelamaan menyadari bahwa ‘warisan’ yang diberikan David Bowie kepada saya ternyata bukanlah musiknya. Melainkan caranya untuk bisa menginspirasi orang banyak untuk keluar dari zona nyaman hidupnya. Nasehat  ‘jangan cepat puas’ juga yang ingin disampaikan Bowie secara tersirat dalam lagu-lagunya. Selain itu, David Bowie seolah berpesan secara tersirat untuk musisi yang masih senang membawakan lagu milik orang lain karena belum menemukan karakternya dalam dirinya membawakan karyanya sendiri. Bowie mengajak berpikir sejenak jikalau pembuat karyanya telah tiada, hanya karyanya sendiri yang akan berbicara menembus ruang dan waktu, mengingat hidup itu pendek dan seni itu panjang. Tanpa menutup kemungkinan anda menjadi pribadi eksentrik seperti David Bowie, berjuanglah untuk menghasilkan karya sendiri selama tak ada yang baru di bawah matahari. Good artist copy, great artist steal.

Mengobrolkan tentang ‘warisan’ David Bowie memang tak pernah ada habisnya. Warisan yang bisa datang dalam bentuk apa saja, yang berbeda bagi tiap orang yang mendengarkan karyanya.  Konsistensi Bowie tetap menghasilkan karya hingga akhir hayatnya telah menembus batas, melebihi dari yang diharapkan oleh Bowie sendiri, hingga datang waktunya Bowie dalam dekapan Tuhan YME selamanya.

And now the stars look very different today. Happy life on Mars, Sir!


Baca tulisan lainnya dari Achmad Nirwan

Semangat Anti Kemapanan yang Terus Berjalan

Banyak Jalan Menuju Kemerdekaan Bermusik

Panggung Memukau milik Musisi Indie

Musik Kontemporer itu Seperti Virus

Membuka Jejak Semesta dan Rupa Pesona