Bagaimana jadinya bila hidup tanpa musik?

Tanpa hadirnya bunyi – bunyian yang mengalun dan dendangan lirik, nada yang bermozaik dalam satu rangkaian tenun refrain. Musik memberikan tatanan dan makna dalam hidup. Bayangkan saja jika orang yang senihilis Nietzche berujar, “Without music, life would be a mistake”. Wajar jika kemudian dedikasi akan musik berwujud pada berbagai peringatan.

Berbicara tentang musik tak akan lepas dari subjek yang memainkannya. Musisi adalah sebutannya. Musisi adalah orang yang mendedikasikan diri dalam mempersembahkan sabda – sabda kearifan dan keagungan dalam estetika yang bisa diterima dengan mudah oleh khalayak.

Saya teringat akan sebuah doktrin yang biasa diberikan ketika saya masih awal bermahasiswa, diceritakan oleh senior, betapa kaum terpelajar kemudian berperan dalam menjadi agent of change, social control, dan lain – lainnya. Toh, tak ada beda dengan yang dilakukan oleh para musisi. Sebut saja yang terjadi pada gerakan anti perang Vietnam yang dilakukan Bob Dylan, Joan Baez, hingga Jimi Hendrix. Bahkan dalam skala nasional, perjuangan kemerdekaan tak lepas dari maestro WR Soepratman dan gerakan penggulingan orde baru tak terlepas dari peran Iwan Fals, Swami, Harry Roesli, dan lainnya. Jadi bisa dibilang musisi dan kaum terpelajar  tak ada beda dalam hal tersebut.

Tak Menghargai Musik

Adalah sebuah cerita ketika menghadiri acara diskusi musik yang menghadirkan sebuah band lokal dengan potensi nasional. Karyanya adalah memperkenalkan budaya lokal Sulawesi Selatan. Contohnya saja, syair – syair La Galigo dalam bentuk lirik berbahasa Indonesia yang lebih ringan untuk disampaikan dan musik akustik yang lebih bisa diterima oleh anak – anak muda. Namun pada acara tersebut, yang notabene di mana band tersebut mulai memainkan lagu mereka, para peserta yang mayoritas mahasiswa kemudian satu-per-satu menghilang dari ruangan. Mendadak ruangan yang sebelumnya ramai berangsur-angsur menjadi sepi dan tinggal beberapa orang yang bisa dihitung jari saja.

Ada juga kisah mengenai seorang teman yang merupakan salah satu aktivis kampus yang populer dan kerap mengisi demonstrasi di jalanan dengan orasi – orasinya tentang neoliberalisme dan kapitalisme. Teman yang satu itu memiliki hobi berdownload ria secara gratisan di dunia maya.  Pada suatu hari, dia datang kepada saya dan kemudian dipamerkanlah hasil download gratis lagu – lagu band teranyar hingga tak teranyar yang dimilikinya. Diputarnyalah lagu –lagu melayu dan mendayu favorit hasil unduhan gratisnya. Ironis ketika seorang aktivis yang sering berdemonstrasi tentang pencurian kekayaan alam oleh antek neoliberalisme justru melakukan pencurian karya seni yang seharusnya dihargai minimal sebagai eksistensi musisi tersebut untuk berkarya.

Selain dari itu, ada juga kisah bagaimana sebuah kepanitiaan dari kegiatan rutin Inaugurasi mahasiswa. Kegiatan itu memang senantiasa memasukkan unsur musik di dalamnya. Disiapkanlah alat musik dan para pementas yang beragam dari berbagai angkatan hingga dosen. Namun sayangnya, sepertinya kepanitiaan ini kurang serius dalam menggarap pementasan musik itu. Lagu – lagu yang dibawakan juga tak ada beda dengan para awam di acara televisi, mendayu, dan tak berbobot.

Ketiga kejadian di atas adalah fenomena kondisi para intelektual kampus khususnya yang berada di Makassar. Kota yang konon melahirkan generasi – generasi  intelektual dan gerakan – gerakan yang sangat militan. Namun entah tak jauh beda dari apa yang mereka “lawan” selama ini.

Semangat Record Store Day

Record Store Day adalah sebuah peringatan akan pentingnya musik dalam kehidupan kita. Perayaan internasional yang rutin terlaksana selama bulan April dari tahun 2007.  Terlalu muluk rasanya jika kita berbicara masalah anti-pembajakan yang senantiasa diagungkan Record Store Day, namun dalam diri para masyarakat Indonesia apalagi kaum terpelajar tidak ada niat untuk memiliki musik dan musisi lokal yang “bergizi”.

Habermas mengatakan bahwa perubahan sosial  senantiasa harusnya dilakukan oleh para kaum terpelajar yang bersemayam di kampus. Intelektual harusnya minimal memberikan penghargaan kepada orang – orang yang mendedikasikan dirinya untuk musik serta yang “bergizi” dan bukan hasil konstruksi televisi dan media mainstream yang sangat tidak mendidik.

Kaum terpelajar alangkah baiknya menjadi wacana tanding akan televisi dan media mainstream. Begitulah yang terjadi pada awal dilaksanakannya Record Store Day yang bertujuan membendung monopoli kekuasaan musik yang berwujud dalam bentuk rilisan fisik. Kiranya perlu melihatnya lebih dari sekedar kongkow para kolektor dan pemilik vinyl, lebih dari itu adalah usaha penghargaan kepada para pelaku musik dan memandang bahwa musik adalah sarana perubahan bukan sekadar hiburan. Musik lebih mudah diterima dalam berbagai kondisi.

Memanfaatkan musik sebagai sarana perubahan–tentunya secara serius–adalah caranya.  Dengan lahirnya sikap serius akan timbul rasa peduli dan memiliki, dengan begitu akan lahir sebuah semangat akan perubahan, demi generasi ke depan. Sebab musik adalah hidup dan hidup musik! 

Image Credit: WolfInAlaska


Tulisan lainnya dari Dhihram Tenrisau

 Berimaji dengan John

Ber’haji’ di Festival Musik

Saya dan Cak Nur