Ilustrasi: Aisyah Azalya ( @syhzly )

Indonesia termasuk dalam sekitar 20% pengguna YouTube dunia. Lalu hasil dari survei Google, peningkatan YouTube di Indonesia dari tahun ke tahun mencapai 600 persen berdasarkan data kuartal ketiga 2015 dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan itu lebih besar tiga kali lipat dari negara lain di Asia Pasifik. Namun, baru beberapa bulan belakangan ini (entah bagaimana)  para YouTubers Indonesia sedang booming di kalangan remaja termasuk adik saya. Resah dan gelisah, saya melakukan sedikit pengamatan pada konten-konten yang mereka tawarkan dalam channel mereka. Hasilnya cukup beragam mulai dari penjelasan tentang game, film, fakta-fakta menarik, parodi, dan sebagainya. Saya akui (beberapa) cukup menghibur, walau belum bisa dibandingkan dengan YouTubers dari luar Indonesia.

Selain itu, ada juga Vlog di Youtube. Vlog pada dasarnya sama dengan blog, biasanya berisi tentang gambaran kehidupan sehari-hari pembuatnya. Namun bedanya, semua dilakukan dalam format video. Dari situ, banyak YouTubers yang menayangkan kehidupan pribadi selain konten tetap mereka. Lalu ada sesi mailtime. Dalam sesi ini, si pemilik channel membuka bingkisan-bingkisan yang (entah kenapa) diberikan oleh fans-fans mereka. Hadiahnya bermacam-macam mulai dari sekadar surat, bahkan ada yang sampai menghadiahkan keyboard dan barang-barang lainnya yang menurut saya cukup mahal. Jadi, selain dapat uang (dengan syarat tertentu, Cara Mendapatkan Uang dengan Membuat Video YouTube) mereka juga bisa mendapatkan hadiah dari penontonnya hanya dari mengunggah video di YouTube.

Semua buaian-buaian merdu seperti keuntungan material dan pujian yang bisa diperoleh dengan cara yang cukup mudah, membuat sebagian orang bahkan beberapa YouTubers-nya sendiri, mulai membandingkan tayangan YouTube dengan tayangan TV dan menganggap tayangan di YouTube lebih baik. Munculnya dikotomi ini adalah titik awal bahaya laten yang terus saya sebutkan dari awal dan semuanya memiliki benang merah mereka sendiri.

Tayangan-tayangan TV sekarang beberapa memang sangat meresahkan. Contohnya: Sinetron dan Reality Show, maka wajar memang kalau masyarakat mulai menganggap tayangan Youtube itu lebih berisi dan bermanfaat. Namun anggapan seperti itu bisa saja jadi bumerang khususnya bagi orang tua karena sebenarnya tidak semua yang ada di YouTube pun aman untuk dikonsumsi terutama bagi anak-anak. Bayangkan saja tayangan TV yang memiliki UU yang mengikat juga KPI sebagai pengawas masih sering lalai dalam mengatur tayangan apalagi YouTube yang hanya tergantung kesadaran pembuat kontennya untuk memperingatkan bahwa tayangannya mengandung unsur tertentu dan sebagainya. Memberi sensor pada kata-kata kasar atau mengatur Age Restricted agar videonya hanya bisa diakses terbatas oleh kalangan dari usia dewasa saja. Namun, sepertinya belum semua pembuat konten memikirkan itu, jadi bila kita lalai dalam memperhatikan apa yang dikonsumsi anak-anak akan berdampak negatif.

Jika orang tua lalai, dampaknya bisa kita lihat dari YouTube itu sendiri. Coba saja mengetik di kolom search dengan keyword “Pengen Jadi YouTuber” akan banyak muncul video anak-anak usia sekolah yang memulai langkahnya untuk memenuhi harapan menjadi YouTuber. Lucu memang. Awalnya saya masih senang dan hormat pada mereka. Setidaknya, mereka sudah memulai dan ingin menjadi sesuatu di usia muda. Namun, semua berubah saat saya mencari dengan keyword lain yaitu “Buka Mail Time” akan muncul video YouTuber terkenal namun jika kita teliti dan terus menggali ke page-page selanjutnya akan terlihat kembali video-video anak usia sekolah yang menampilkan mereka sedang membuka bingkisan dari fans bahkan saat itu adalah video pertama mereka. Jujur saya ketawa saking lucunya namun di sisi lain hati saya merasa miris. Bujuk rayu popularitas sseperti idola mereka, angin-angin surga keuntungan menjadi YouTuber lebih membuat mereka terlihat seperti terjebak delusi dibandingkan dengan mencoba meraih mimpi mereka. Saya doakan semoga adik-adik ini semoga cepat sadar, PR matematikamu menunggu.

Selain itu bisa kita lihat dari keseharian anak tersebut. Jika anak kita (kita?) Okay, jika anak anda ataupun anak tetangga mulai akrab dengan istilah “Swag” menyapa dengan “Whats’up” “Hai Guys” “Apa Kabs?” “Lelaki Kardus”, tiba-tiba belajar beatbox atau mulai melawan jika disuruh dan bilang “I d*nt give a f*ck, bi*ch! I don’t-I don’t give a f*ck! Boom!”. Maka sebaiknya batasi aktivitas mereka dengan gadget dan Internet. Untuk contoh terakhir sebaiknya diberikan hukuman tegas, seperti larangan mengakses internet sama sekali. Selain menjauhkan mereka dari delusi, ini menghindarkan mereka dari kemungkinan kena cyber bullying yang bisa berdampak kurang baik kepada mereka.

Lagipula dari awal, dikotomi konten YouTube dengan tayangan TV ini kurang tepat, tidak perlu, buang-buang waktu karena sebenarnya tidak perlu ada dikotomi antara mereka. Deklarasi beberapa Youtuber pun yang mengatakan, “YouTube lebih dari TV” pun menurut saya hanya omong kosong belaka yang tidak dipikir secara matang. TV dan YouTube ini adalah dua platform berbeda. Walaupun sama-sama belum merata penyebarannya namun tidak seperti siaran tayangan TV yang jangkauannya sudah lebih luas. YouTube lebih terbatas lagi karena masih terpaku pada penggunaan gadget dan akses internet yang sebagaimana kita tahu di negara ini belum merata sampai ke beberapa tempat. Bisa dikatakan YouTube masih terbatas pada penduduk atau kalangan yang tinggal di tempat-tempat yang memiliki jaringan internet yang lancar. Jadi dapat dikatakan di Indonesia segmen penonton tayangan TV masih lebih luas dibanding pengguna YouTube. Daripada dibandingkan dengan TV, mungkin akan lebih masuk akal jika YouTube dibandingkan dengan sesamanya situs penyedia tayangan video seperti Vimeo, Dailymotion, dan lain-lain.

Daripada sibuk mencari dikotomi YouTube-tayangan TV bagaimana jika kita mencari saja cara bijak menyaring apa yang kita atau anak-anak di kedua tempat tersebut. Sedikit pesan juga pada creator khususnya YouTube jika kalian memang berangkat dari keresahan akan acara-acara tayangan TV maka buatlah konten yang tidak meresahkan. Jika merasa kebebasan pribadi terganggu, maka setidaknya berikan peringatan pada konten yang akan ditayangkan. Jangan sampai kalian menjelma menjadi apa yang kalian resahkan. Itu Ibarat resah akan mars perindo yang sering ditayangkan di TV tapi membuat lagu “Ganteng-Ganteng Swag” di YouTube yang boleh jadi jauh lebih meresahkan.

*Penggunaan Logo YouTube mengikuti pedoman di laman Hiburan & Media.


Baca tulisan lainnya

Tenang, Hanya Vaksin Palsu

Balada TV Kabel: Ditinggal Saat Lagi Sayang-sayangnya

Investigasi Serba Kebetulan

Komunitas yang Mengundang Kebingungan

Komunitas, Jangan Asal Kumpul-kumpul

Tamparan dari Tulisan Spotlight

Menteri yang Lucu

The Power Syndrome

Zaskia Gotik dan Rasa Syukur yang Kupetik

Yang Mengkhawatirkan dari Muda-Mudi Kekinian